Aku Sangat Beruntung
Aku sangat
beruntung. Masuk MAPFLOFA bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali tantangan demi tantangan yang harus
dilalui. Tapi semua ternyata terlalu murah dibandingkan apa yang kudapat di
MAPFLOFA.
Aku akan berkata dengan jujur pada kalian. Bukan
karena aku adalah seseorang yang suka memuji organisasi sendiri hingga begitu
narsis sampai terlalu menyanjung. Aku bahkan bukan orang yang pandai memuji.
Aku hanya akan jujur pada kalian.
Bahwa aku mendapat banyak ilmu di sini.
Jelas, MAPFLOFA bukan satu-satunya organisasi yang
membantu mendewasakan pemikiranku. MAPFLOFA hanya salah satu organisasi yang
tak rapi secara administrasi, markasnya terletak di gubuk fahutan dengan
teman-teman yang kebanyakan bermuka sangar.
Pertama kali masuk MAPFLOFA aku juga takut dengan
wajah-wajah tak bersahabat itu. Tapi apakah benar pemilik wajah2 sangar itu
galak bin jahat bin serem? Setahun menjalani proses untuk menjadi anggota
MAPFLOFA, aku masih juga merasa seram, even
kakak2 itu sudah sering tersenyum dan menyapaku di jalan. Tetap saja kata
”Angker” masih melekat di wajah mereka. Setahun, dua tahun aku berada di
MAPFLOFA, kata seram itu juga terkadang masih sering bercokol di otakku. Tanpa
sadar aku juga jadi ikut memiliki tampang ”Seram”. Entah kenapa ketika menjadi
MAPFLOfer, aku merasa harus berwibawa, bertampang tegas agar terlihat
benar-benar MAPFLOFA. Tapi yang sering keluar justru wajah seram.
Reuni Akbar sekaligus perayaan hari jadi mapflofa yang ke-23 yang kami selenggarakan nampaknya
benar-benar ber-efek terhadap perasaanku. Walau aku jarang berkomunikasi dengan
alumni, karena selain gugup, aku juga sibuk dengan persiapan2 lainya (namanya
juga panitia), aku merasa ”benang merah” yang mengikat kami itu benar-benar
hadir. Mereka bertampang seram, jarang berkomunikasi denganku, tapi dengan
ke-mapflofa-anku mereka tersenyum. dan aku tau mereka memang baik.
Beberapa bulan ini, kami semua sibuk dalam upaya
mempersiapkan reuni ini. Berbagai masalah menimpa kami. Tapi syukurlah semua panitia yang
bekerja tak kehilangan semangat dan tetap cooling-down
walau masalah datang bertubi-tubi, pekerjaan bertumpuk dan tekanan semakin kuat
menghantam kami. Di sini lah aku merasa MAPFLOFA memang sebuah keluarga dengan
orang2 yang mempunyai sifat berbeda2.
Aku sering sekali melakukan kesalahan selama
kepanitiaan juga selama aku tingal di mabes tercinta. Aku lebih lambat
daripada yang lain ketika bekerja. Aku sering tertidur duluan sebelum yang
lain. Aku sering bersuara keras pada teman-teman atau kakak2ku yang lembut. Aku juga sering melewatkan beberapa pertemuan. Tapi mereka tetap
tersenyum. nampak jelas mereka benar-benar mengerti aku. Tapi aku merasa lebih dimengerti di
sini daripada di rumah sendiri. Tak ada yang berkomentar/mengutuk setiap hari atas kesalahan2ku atau
kekuranganku.
Kali ini kulihat mereka bekerja dan
terus mempertahankan semangat demi MAPFLOFA. Reuni akbar kali ini benar-benar
menguras waktu, tenaga dan pemikiran. Tetapi semua puas dan hampir selalu tersenyum.
Karena setiap baru down, baleho jadi. Bagus banget…. dalam hatiku, dan aku
kembali semangat.
Lalu, bagaimana aku bisa tidak menjadi semakin
jatuh hati kepada MAPFLOFA? sampai sekarang, walau sering bersedih karena
ketidakpuasan. aku tetap bersyukur diletakkan di sini oleh Yang Maha Kuasa. Sekarang aku mengerti, Bukan karena kondisi
MAPFLOFA aku menjadi sedih. Tapi
lebih karena aku adalah manusia biasa yang selalu tidak puas dengan apa yang
ada. Ketika kulihat perjuangan saudara-saudaraku untuk mempersiapkan reuni
akbar ini, aku menjadi paham, semua memang saling berkaitan dan tak bisa dipisahkan.
Oia, btw aku terinspirasi
dari seorang kakak yang sudah jadi alumni. Dia sedang mabuk( ga sadar ) waktu bicara denganku. Jadi
dia banyak bicara. Tapi,
lucunya tak ada rasa takut padanya, tidak seperti saat dia tidak minum. Kata-katanya
lebih bijak dan sabar menasehati dan memberi ilmunya kepadaku pada saat mabuk. Aneh? Memang. Tapi mungkin itulah yang
namanya sayang tak terlihat. Kalo dia gak sayang ma aku dan
MAPFLOFA, tentu dia tidak akan memberi kunci2 tentang dunia kerja itu kepadaku.
Aku beruntung dianggap sesama anak MAPFLOFA. jadi dia memberitahuku. Coba
bukan, mungkin aku tak akan pernah diberitahu, karena aku tidak akrab
dengannya.
Thanks a lot buat semua anak-anak MAPFLOFA yang
selalu mensupport walaupun tidak terlihat, tapi aku merasa kehadiran
kawan-kawan sudah mensupportku. Thanks a lot buat raka-raka alumni yang
menghargai jerih payah kami untuk MAPFLOFA. Terima kasih Ya Allah, karena
Engkau memberiku kesempatan untuk belajar banyak makna hidup di sini.