Tragedi Sangkima
Kamis, 16 Agustus 2007
Pada hari itu saya berserta teman-teman dari Tim Elger Adventur Service Team berangkat menuju Taman Nasional Kutai Sangkima tuk mempersiapkan lokasi untuk acara Mountain end Jangel curs yang akan dilaksanakan di TNk, setibanya tim kami di lokasi tempat acara akan di laksanakan kami sungguh terkejut dengan kejadian yang terjadi di lokasi karna setau kami pada waktu survei awal pada awal juni tepatnya tgl 3 juni 2007 di loksi kerapatan vegetasi di tepi jalan poros antar kota maupun di dalamnya pepohonannya masih rapat dan rindang, berbeda terbalik saat kami tiba waktu itu.
Hilang sudah kemegahan Taman Nasional Kutai Sangkima yang pernah ada dimana tumbuh subur tegakan-tegakan Dipterocarpace menjulang tinggi hingga menembus awan serta kicawan burung-burung pagi juga nyayian satwa yang merdu, kini yang tertinggal hanyalah jeritan dari peghuni rimba Taman Nasional Kutai. akibat perambahan hutan besar-besaran oleh penduduk asli daerah itu dengan berdalihkan ingin menjaga tanah nenek adat mereka dari pada nantinya tanah adat nenek moyang mereka akan diambil oleh para pendatang. Sungguh ironis sekali hanya karana masalah tersebut para penghuni yang mungkin hidupnya lebih dulu dari pada orang-orang yang mengaku tanah moyangnya emang para penghuni TNK tak memiliki bukti seperti sertifikat tanah untuk membuktikan bahwa tanah itu adalah tanah mereka.Bisa jadi nantinya mereka akan menjadi dongeng pengantar tidur anak cucu kita yg tak sempat melihat mereka akibat keserakahan nenek moyangnya
hemm sunguh teragis memang nasib mereka yang terang-terangan di hadaoan mereka satu oersatu tumbang dan di buru oleh demi tuk mengisi kontong-kantong pribadi para tirani yang haus karana kekuasan maupun kekayaan yang sebenarnya taakan di bawa mati nantinya.
Hijau jauh memandang dari atas bukit terhampar bagaikan primadani, nyayian saywa bersaut-sautan menyambut fajar di kala pagi dan mengantar fajar dikala sore hari tuk menjemput sang rembulan di malamnya TNK.
Raungan mesin pembantai masal penghuni rimba tedengar jelas di telinga, sampaikapan hal ini baru akan di sadari oleh orang-orang tak bertanggung jawab sehingga membuat Satu persatu sahabat pergi dan takan kembali tungulah!!! bencana yang akan datang menggantikannya setelah bencana datang mungkin kita baru menyadarinya bahwa pentingnya kehadiran para penghubi rimba " Tanya Kenapa????"
Tunggu Apa Lagi Apakah kita mau menunggu bencana itu datang atau kah meu mencegahnya, belum ada kata terlambat sebelum hal itu terjadi dan rusak semuannya
Samarinda, 29 Agustus 2007
Salam Lestari !!!!!!!!!!!!!!!!
By : riffbul Mapflofa Fahutan Unmul