carnivora plant

This my project
Ingin
membasmi semut, lalat, dan kecoak di rumah? Pelihara saja kantong semar.
Tanaman pemangsa serangga ini agaknya menjadi cara alami yang ampuh membasmi
semua serangga pengganggu, sekaligus mempercantik rumah dengan penampilannya
yang unik.
Kantong semar
atau nama latinnya Nepenthes spp sudah dikenal sejak awal abad ke-18. Tanaman ini unik karena memiliki kantong
yang tergantung di ujung daun. Kantong ini berfungsi menangkap hewan, terutama
serangga, yang akan dijadikan nutrisi untuk tanaman.
Nepenthes merupakan satu-satunya genus
dalam family Nepenthaceae dan sangat
unik karena berbeda dengan tanaman hias yang sering dijadikan koleksi. Tanaman
yang termasuk dalam golongan carnivorous plant (tumbuhan pemangsa) ini bersama
amorphophallus, rafflesia, dan lainnya dikategorikan sebagai tanaman hias unik.
Kantong semar tergolong ke dalam tumbuhan liana
(merambat), berumah dua, serta bunga jantan dan betina terpisah pada individu
yang berbeda. Tumbuhan ini hidup di tanah, ada juga yang menempel pada batang
atau ranting pohon lain sebagai epifit.
Keunikan dari tumbuhan ini adalah bentuk, ukuran,
dan corak warna kantongnya. Sebenarnya kantong yang berbentuk seperti periuk
tersebut adalah ujung daun yang berubah bentuk dan fungsinya menjadi perangkap
serangga atau binatang kecil lainnya.
Tumbuhan Kantong Semar atau nama latinnya Nepenthes Sp, merupakan
tumbuhan yang unik karena mempunyai kantong yang berbentuk seperti periuk di
ujung urat daunnya, beberapa Nepenthes sp. memiliki kantong dengan sayap yang pada sisi-sisinya
ada rambut menyerupai tangga. Di dalam kantong terdapat cairan yang berfungsi
seperti cairan lambung manusia. Cairan itu bersifat asam dengan pH 2,8-4,9,
yang memungkinkan tubuh serangga rusak. Untuk dapat diambil zat gizinya, komponen
tubuh serangga perlu dihancurkan sampai molekul penyusunnya. Tugas ini
dilakukan oleh berbagai enzim–protein yang mengkatalis reaksi kimia. Contohnya
enzim kitinase yang mengurai cangkang serangga. Yang lebih dominan dan banyak
jumlahnya adalah enzim protease, yang mengurai protein dari tubuh serangga. Enzim
ini populer dengan nama nepenthesin (paduan kata "Nepenthes" dan
"protein").
Kantong semar mempunyai kemampuan unik lain, yaitu dapat
membentuk kantong yang berbeda dari tumbuhan yang sama. Kantong yang menggantung dan berada di atas tanah disebut
kantong atas, sementara kantong yang berada di atas tanah disebut kantong
bawah. Fenomena dimorfisme ini tampak jelas pada tumbuhan kantong semar
Nepenthes gymnamphora yang penulis amati di Taman Nasional Gunung Halimun, Jawa
Barat.
Kantong
atas berwarna hijau karena kandungan klorofil memungkinkannya melakukan
fotosintesis seperti daun, sementara kantong bawah yang terlindung dari sinar
matahari berwarna merah menyala. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Serangga
terbang yang menjadi mangsa kantong atas tidak terlalu membutuhkan rangsangan
warna, sementara semut yang menjadi "santapan" kantong bawah perlu
dipikat dengan warna yang mencolok.
Di seluruh dunia Nepenthes tumbuh dan tersebar
mulai dari
Australia
bagian
utara, Asia Tenggara, hingga
China
bagian selatan. Di dunia telah ditemukan 82 jenis Indonesia . Borneo (Kalimantan, Brunei ) sana ditemukan 32 jenis.
nepenthes, dan 64 jenis di antaranya ditemukan di
Serawak, Sabah, dan
merupakan pusat penyebaran nepenthes terbesar di dunia karena dari
Dari Sumatera ditemukan 29 jenis. Hasil penelusuran spesimen herbarium di
Herbarium Bogoriense, Bogor, ditemukan bahwa di Sulawesi minimum mempunyai 10
jenis, Papua mempunyai 9 jenis, Maluku 4 jenis, dan Jawa hanya ditemukan 2
jenis.
Nepenthes Sp adalah jenis tumbuhan padang savana.
karnivora yang menjebak dan memakan mangsanya seperti serangga yang tertarik
dengan kelenjar nectar pada bagian tutup kantong dan pada bagian bibir kantong
yang menjadi makanan semut, pada bagian bibir kantong berlapis lilin yang licin sehingga serangga- serangga mudah
tergelincir kedalam kantong yang beisis cairan nectar tersebut, Umumnya
nepenthes hidup di tempat-tempat terbuka atau agak terlindung di habitat yang
miskin unsur hara dan memiliki kelembaban udara cukup tinggi. Nepenthes bisa
hidup di hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut,
hutan kerangas, gunung kapur, dan
Berdasarkan ketinggian tempat tumbuhnya, nepenthes dibagi menjadi
tiga kelompok, yaitu :
1. nepenthes dataran rendah
2. nepenthes dataran menengah
3. nepenthes dataran tinggi
Pemahaman akan kelompok ini sangat penting dalam memelihara
nepenthes karena nepenthes dataran rendah tidak akan bisa hidup bila ditanam di
dataran tinggi. Begitu juga sebaliknya. Namun kadang, baik pemelihara maupun
penjual sering kali tidak mengenali jenis nepenthes sehingga nepenthes-nya mati
setelah tidak lama dipelihara.
Kutu putih merupakan salah satu
hama yang paling sering menyerang nepenthes hama ini sangat mudah dikenali. Hal itu dikarenakan bentuknya yang oval, memiliki
atau kantong semar. Meski kecil,
serbuk putih dan ditumbuhi bulu halus putih di tubuhnya.
Ancaman Buat Si Cantik Kantong Semar
Kutu putih Hama ini sering
ini cukup berbahaya, karena ia menghisap cairan yang terdapat dalam tanaman
nepenthes sehingga bisa menyebabkan layu dan perubahan pada batang.
bersembunyi di batang, ketiak dan permukaan bawah daun.
Untuk hama .
mencegahnya, taruhlah tanaman nepenthes di tempat yang pencahayaan dan
sirkulasi udaranya baik. Namun, jika sudah terserang, semprotkan 2 cc
insektisida sistemik yang dicampur dengan satu liter air pada bagian yang
terkena
Insektisida sistemik ini bisa berupa Monitor 200 LC, Applaud 10 WP, Mitac 200
EC atau Pegasus 500 EC.
Tanaman dengan Seribu Nama
1. Tanaman kantong semar dalam bahasa Latin disebut
Nepenthes. Nama ini diambil dari sebuah nama gelas anggur.
2. Mungkin karena bentuknya seperti perut semar (tokoh
dalam pewayangan) yang buncit, di Indonesia nepenthes disebut kantong semar.
3. Di beberapa daerah,
nepenthes memiliki beberapa nama. Riau menyebut kantong semar sebagai periuk
monyet. Di Jambi disebut kantong beruk, di Bangka disebut ketakung, dan di Jawa
Barat dikenal dengan sorok raja mantri.
4. Di Kalimantan, setiap
suku memiliki istilah sendiri untuk menyebut nepenthes. Misalnya Suku Dayak
Katingan yang berada di Kalimantan Tengah menyebutnya sebagai ketupat napu.
Napu artinya rawa. Dulu kantong tumbuhan yang hidupnya di rawa ini sering
dijadikan ketupat. Di Sumatera Barat kantong tanaman ini (terutama Nepenthes
ampullaria) juga sering dipakai untuk membuat kue godah. Kue ini terbuat dari
campuran tepung beras, gula, dan santan yang kemudian dikukus.
5. Suku Dayak Bakumpai
di Sungai Barito menyebutnya telep ujung. Ujung adalah nama seorang raja,
sedangkan telep adalah nama sebuah alat dari bambu yang berbentuk silinder.
Alat ini biasanya dipakai untuk menyimpan racun anak panah.
6. Suku Dayak Tunjung (Kalimantan Timur)
menyebutnya selo bengongong, yang artinya sarang serangga. (ARN/M Clara Wresti)
